Malang, Binarpagi.id – Berkenalan lebih dalam dengan Bapak Widodo, pengusaha pembibitan lele di Malang. Bapak Widodo menyampaikan alasan beliau memilih pembibitan benih lele dikarenakan sudah memiliki ilmu dasar yang sudah ia pelajari sejak berada di Masaran, Jawa Tengah. Beliau juga menambahkan bahwa alasan memilih pembibitan lele dibanding pembesaran lele dikarenakan modal yang lebih minim namun menghasilkan hasil lebih banyak.
Usaha budidaya ikan lele sudah sangat umum ditelateni banyak peternak di Kota Malang ini, tetapi berbeda dengan pembibitan yang jarang ditekuni para peternak lele. “Pembibitan itu seperti ngopeni bayi” ujar Pak Widodo. Proses pembibitan lele ini dimulai dengan merawat indukan, mengawinkan, dan menunggu hingga telur menetas dan menjadi benih-benih kecil.
Pembibitan lele berlangsug selama kurang lebih 3 minggu sampai 1,5 bulan sebelum benih bisa dijual ke konsumen. Meskipun kelihatannya singkat, perawatannya sangat membutuhkan pengawasan yang ketat. Suhu, kualitas akhir, dan juga pakan harus dikontrol dengan sangat teliti. “Perubahan kecil bisa berdampak besar. Kalau telat ditangani, bisa habis satu kolam,” kata dia.
Kualitas benih lele dipengaruhi oleh indukan dan kualitas air yang digunakan. Pak Widodo selalu menekankan pentingnya memilih induk yang unggul dan penggunaan air yang berkualitas, ia bahkan memilih PDAM yang berbasis mata air dengan kadar kaporit rendah. Dia juga percaya, kualitas air di Kota Malang ini termasuk salah satu sumber mata air terbaik dan menjadi alasan terbesar keberhasilan pembibitan lele Pak Widodo.
Baca Juga: Cara Berternak Lele Mudah, Hasil Melimpah
Di tengah kesulitan dan banyak tantangan yang dihadapi, Pak Widodo selalu semangat menjalani usaha ini. Dia juga mengakui usaha pembibitan lele sangat membutuhkan perhatian yang lebih, sedangkan pembesaran bisa dikontrol harian. “Mungkin banyak yang memilih pembesaran karena tidak mau ribet, tapi kalau telaten, pembibitan punya potensi besar,” Ujar Pak Widodo.
Target konsumen Pak Widodo ini juga terbilang unik, karena bukan hanya peternak atau pembudidaya besar. Konsumen yang mendatangi Pak Widodo ini cenderung dari pasar hiburan, konten kreator, Youtuber, dan juga banyak pemula yang baru memulai pembibitan di rumah dengan skala kecil. Hal ini juga membuatnya lebih bisa menyesuaikan produksi yang masih terbatas.
Pak Widodo masih memanfaatkan Facebook untuk mempromosikan usahanya, serta aktif bersosialisasi dengan calon pembeli. “Saya nggak cuma jualan. Saya ngobrol, saya dengarkan cerita mereka. Dari situlah relasi dibangun” ujarnya. Dia percaya jika komunikasi adalah kunci membangun kepercayaan dalam bisnis skala kecil seperti ini.
Beberapa momen berkesan juga pak Widodo sampaikan selama menekuni usaha ini. Mulai dari terjaga semalaman untuk memantau induk lele hingga mengawinkan lele untuk mendapatkan bibit yang berkualitas. Mengawinkan induk lele juga tidak semudah itu, tantangan yang pak Widodo hadapi juga banyak, mulai dari bibit yang dihasilkan jelek hingga perlu mengorbankan induk mati untuk mendapatkan bibit yang banyak.
Bagi pak Widodo, pembibitan yang ia jalani bukan sekedar bisnis, tapi juga ladang belajar dan meluaskan relasi. Ia menyebut dirinya “korban hidup” yang kini mencoba menghidupkan mimpi orang lain. Satu benih lele bisa menjadi awal dari perubahan besar dan di tangan orang yang sabar, benih itu dapat tumbuh menjadi harapan.
Penulis: Aisyah Atifah & Kandiasalma Yunita
Editor: Aisyah Atifah












