banner 970x250

Sarung sebagai Peradaban -Hilang Tahun & Reuni Akbar 2025

Sarung sebagai Peradaban -Hilang Tahun & Reuni Akbar 2025
Sarung sebagai Peradaban -Hilang Tahun & Reuni Akbar 2025
60 / 100 Skor SEO

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman, Pesantren Luhur Baitul Hikmah kembali menggelar sebuah perhelatan yang bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi perayaan identitas dan kebudayaan pesantren. Acara Hilang Tahun & Temu Alumni 2025, yang berpuncak pada 14 Desember 2025, mengusung tema besar “Peradaban Sarung.” Tema ini dipilih bukan sekadar simbol pakaian santri, tetapi sebagai metafora peradaban: sederhana, hangat, fleksibel, mengakar, dan tak lekang dimakan waktu.

Acara ini digelar di lingkungan pesantren yang beralamat di Jl. Aris Joyo Mustoko, RT/RW 05/02, Ngempit, Tegalsari, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebuah kawasan yang sejak lama menjadi ruang tumbuhnya gagasan, spiritualitas, dan kebudayaan santri.

Tahun ini terasa semakin istimewa karena dua tokoh nasional yang sangat dihormati di dunia literasi dan pemikiran dijadwalkan hadir, yakni Dr. Fahruddin Faiz dan Kang Maman Suherman. Kedua nama besar ini akan menjadi magnet kuat bagi santri, alumni, maupun masyarakat yang menaruh perhatian pada literasi, budaya, dan tradisi pesantren.

Peradaban yang Dibangun dari Sarung dan Pengetahuan

Sarung dalam tradisi pesantren bukan sekadar kain yang dikenakan. Ia adalah identitas, kesederhanaan, dan etika hidup. Sarung menjadi simbol bagaimana santri tumbuh dari nilai-nilai luhur—kesopanan, rasa hormat, dan kearifan.

Tema “Peradaban Sarung” ingin menegaskan bahwa pesantren bukan entitas yang terjebak di masa lalu, tetapi pusat kebudayaan yang terus hidup di dalam dinamika zaman. Ia membangun peradaban yang lembut namun kokoh, seperti sarung yang terlihat sederhana tetapi mengikat kuat nilai-nilai kehidupan.

Dalam konteks inilah, Pesantren Luhur Baitul Hikmah menjadikan 2025 sebagai momentum untuk menguatkan kembali hubungan antar-alumni serta memperluas jejaring intelektual yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Tiga Hari Bazar Buku Bersama Gramedia

Menjelang puncak acara, suasana pesantren akan disemarakkan oleh Bazar Buku selama tiga hari — Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ini merupakan hasil kolaborasi antara pesantren dan Gramedia, penerbit dan jaringan toko buku terbesar di Indonesia.

Dengan hadirnya Gramedia, halaman pesantren akan berubah menjadi ruang literasi terbuka: deretan buku, rak pameran, ruang baca kecil, dan obrolan ringan antara pengunjung. Buku-buku bertema filsafat, agama, sastra, sosial, hingga novel populer dipastikan tersedia dengan harga khusus.

Bazar ini bukan hanya ajang jual-beli buku. Ia adalah pernyataan bahwa pesantren dan gerakan literasi memiliki hubungan yang sangat erat. Bahwa membaca bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan bagian dari tradisi keilmuan yang telah lama hidup di lingkungan pesantren.

Kehadiran Dua Tokoh Nasional: Ruang Inspirasi Terbuka

Tahun ini, acara Hilang Tahun & Temu Alumni semakin lengkap dengan kehadiran dua figur yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.

Dr. Fahruddin Faiz, akademisi dan dosen filsafat, dikenal luas melalui berbagai kajian filsafat yang disajikan dengan bahasa yang renyah, damai, dan membumi. Kehadirannya menjadi sangat relevan dengan tema “Peradaban Sarung,” karena ia kerap menjembatani kebijaksanaan klasik dengan pemahaman modern.

Sementara itu, Kang Maman Suherman, jurnalis, penulis, dan pegiat literasi nasional, akan membawa perspektif tentang kekuatan bahasa dan cerita dalam membangun karakter masyarakat. Kiprahnya dalam menggerakkan literasi Indonesia menjadi inspirasi bagi banyak kalangan, termasuk para santri dan alumni.

Hadirnya dua tokoh ini di Pesantren Luhur Baitul Hikmah merupakan bentuk penghormatan sekaligus undangan bagi semua alumni untuk kembali meneguhkan komitmen pada ilmu, budaya, dan kolaborasi.

Gus Dhofir Zuhry dan Napas Intelektual Pesantren

Di balik kemeriahan acara, ada figur sentral yang menjadi jantung kegiatan ini: Gus Dhofir Zuhry, pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah sekaligus penulis buku “Filsafat untuk Pemalas.”

Karya beliau yang terkenal itu mencerminkan gaya intelektual khas santri—hidup, cair, dan tidak menggurui. Gus Dhofir adalah sosok yang menunjukkan bahwa pesantren dapat berdialog dengan ilmu pengetahuan melalui pendekatan yang jernih dan menyenangkan.

Beliau pula yang selama ini menanamkan semangat bahwa pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, melainkan ruang lahirnya gagasan-gagasan segar tentang kemanusiaan dan kebudayaan.

Panitia Solid, Semangat Kolaboratif

Terselenggaranya acara besar ini tidak terlepas dari kerja keras tim panitia yang dipimpin oleh Abdur Rahim. Ia tidak bekerja sendirian. Rekan-rekan panitia lintas divisi ikut bergerak dalam satu irama, memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar.

Dukungan penuh juga datang dari Ketua Lurah Pesantren, Moch. Farid Romadhon, yang berperan sebagai penghubung antara pengurus pesantren dan panitia.

Sedangkan koordinasi teknis dan eksekusi banyak dibantu oleh String Comite Panitia Mbak Azizah Zamzam, yang memastikan detail kecil hingga besar tetap rapi, harmonis, dan sesuai konsep yang diinginkan.

Kerja sama ini menjadi cerminan nilai yang selalu dijunjung tinggi di pesantren: gotong royong dan kebersamaan.

Saatnya Pulang ke Rumah Ilmu

Acara Hilang Tahun & Temu Alumni 2025 bukan hanya perayaan. Ini adalah ajakan untuk pulang—pulang ke tempat di mana ilmu pertama kali ditanamkan, pulang ke ruang di mana saudara seperjuangan tumbuh bersama, dan pulang ke identitas santri yang penuh kehangatan.

Semua alumni, dari angkatan paling awal hingga yang terbaru, diundang untuk hadir, membawa semangat baru, dan kembali merasakan suasana pesantren yang penuh kenangan.

14 Desember 2025 akan menjadi hari di mana Pesantren Luhur Baitul Hikmah bukan hanya merayakan usia, tetapi juga merayakan persaudaraan dan peradaban yang dibangun dari sarung, ilmu, dan akhlak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *