Malang, Binarpagi.id – Menjadi pejalan kaki di Malang memiliki tantangan sendiri. Malang mungkin bukan kota besar layaknya Jakarta maupun Surabaya, tapi apakah hal ini menjadi pembeda terhadap jalanan yang dilewati pejalan kaki di kota Malang?
Berjalan terkadang menjadi salah satu cara paling praktis untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Namun sayangnya, fasilitas layaknya trotoar yang tersedia masih kurang memadai. Saat berjalan disekitar jalan Veteran, jalan utama yang selalu dilewati oleh mahasiswa untuk pergi ke kampus, pejalan kaki akan dihadapkan dengan tantangan tersendiri.
Terdapat beberapa trotoar yang sudah rusak dan perlu diperbaiki. Hal ini terkadang membuat pejalan kaki memilih untuk mengurangi resiko terjatuh dengan turun ke jalan beraspal disampingnya. Tindakan ini tentu lebih beresiko karena harus berbagi ruang dengan kendaraan yang berlalu lalang.
Beberapa jalan juga kerap dijadikan lahan parkir ilegal, sehingga lagi-lagi membuat para pejalan kaki harus turun ke jalan beraspal. Tak jarang juga terdapat pedagang kaki lima yang memarkirkan dagangan mereka di trotoar, sehingga akses bagi pejalan kaki semakin menyempit.
Banyak tantangan yang perlu dihadapi pejalan kaki di Malang. Mulai dari fasilitas yang tidak kunjung diperbaiki hingga penyalah gunaan ruang pejalan kaki untuk keperluan pribadi. Hal ini berdampak besar pada berkurangnya jumlah orang yang memilih berjalan kaki, padahal aktivitas ini lebih ramah lingkungan dan sehat.
Pejalan kaki bukan hanya berasal dari mahasiswa ataupun warga lokal. Para turis yang ingin menjelajahi kota Malang pun kerap mengeluhkan fasilitas yang disediakan bagi pejalan kaki di kota Malang.
Banyak harapan dari pejalan kaki di kota Malang untuk segera memperbaiki fasilitas yang disediakan. Jalan kaki bukan hanya sekedar menghemat ongkos transportasi melainkan juga berhubungan dengan mengenal kota Malang lebih dalam- muali dari saura klakson, aroma makanan kai lima, hingga sapaan warga lokal yang hangat.
Jika Malang ingin menjadi kota pendidikan dan wisata yang ramah, maka mendengar dan menghargai suara dari pejalan kaki setiap warganya adalah langkah pertama yang penting.
Penulis: Aisyah Atifah
Editor: Aisyah Atifah












