SUMENEP, BINARPAGI.ID— Ketua Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Silaturahmi Santri dan Alumni (ISSITA) Sumenep, Syafiuddin, mengajak Barisan Pemuda Nusantara (BPN) untuk terus bergerak maju dengan semangat progresif dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ajakan itu ia sampaikan dalam sebuah forum kebangsaan yang digelar di Sumenep, Kamis (14/8/2025). Dalam kesempatan tersebut, Syafiuddin mengangkat filosofi keris sebagai inspirasi perjuangan.
Menurutnya, keris bukan sekadar senjata tradisional, tetapi simbol keuletan, keteguhan, dan identitas budaya bangsa. “Keris mengajarkan kita untuk kokoh pada prinsip, namun tetap lentur menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Syafiuddin berharap, nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan oleh generasi muda BPN dalam berbagai bidang, termasuk sosial, ekonomi, dan politik. Ia menegaskan, pemuda harus hadir dengan gagasan segar, tindakan konkret, dan sikap yang mengakar pada nilai luhur bangsa.
“BPN harus mampu menjawab tantangan masa depan dengan karya, bukan sekadar wacana. Semangat progresif itu penting agar organisasi tidak berjalan di tempat,” kata Syafiuddin.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antarorganisasi kepemudaan. Menurutnya, kolaborasi akan memperkuat posisi pemuda dalam mendorong pembangunan daerah dan nasional.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, aktivis pemuda, dan perwakilan organisasi. Suasana diskusi berlangsung hangat, dengan banyak gagasan yang mengemuka untuk memperkuat peran pemuda di tengah perubahan zaman.
Lihat Juga : Kapal Cantrang Kabur, Nelayan Masalembu Sumenep Ancam Demo Kantor Syahbandar
Analisis Filosofi Keris sebagai Inspirasi Progresivitas BPN
1. Keris sebagai Simbol Ketahanan dan Adaptasi
Keris bukan sekadar artefak budaya, tetapi mencerminkan keuletan dan keteguhan yang tetap adaptif. Dalam pernyataannya, Syafiuddin menekankan nilai “kokoh pada prinsip, namun lentur terhadap tantangan zaman.” Hal ini mencerminkan dualitas nilai tradisional dan inovasi—sangat penting untuk organisasi seperti BPN agar tidak stagnan, melainkan terus berkembang sesuai perkembangan zaman.
2. Simbol Kebudayaan yang Mengakar dan Relevan
Keris tak hanya simbol historis, tapi juga identitas kultural yang mendalam. Mengangkatnya dalam wacana keorganisasian pemuda menunjukkan usaha membumikan gagasan—agar progresivitas yang dikejar bukan semata modernitas, tetapi tumbuh dari akar budaya lokal, membuat gagasan tersebut lebih melekat di masyarakat.
3. Langkah Strategis Pemuda: Nilai Relevan dan Kontekstual
Dengan menautkan filosofi keris ke visi BPN, Syafiuddin mencoba memberikan fondasi moral dan strategis agar pemuda tidak hanya menginisiasi gagasan, tapi juga membumihangkannya secara relevan. Ini adalah strategi yang memperkuat legitimasi ide di lingkungan sosial dan politik setempat.
4. Kolaborasi dan Sinergi Sebagai Manifestasi Nilai Tradisional
Dalam budaya Jawa, keris juga sering terkait dengan simbol harmoni dan keseimbangan—antara kekuatan individu dan integrasi sosial. Tekanan Syafiuddin untuk sinergi antarorganisasi pemuda bisa dilihat sebagai perwujudan nilai tradisional tersebut: memperkuat solidaritas komunitas untuk mencapai perubahan positif.
5. Respons terhadap Tantangan Masa Depan
Penekanan untuk “bekerja lewat karya, bukan sekadar wacana” menunjukkan keseriusan komitmen. Kompetisi nilai dan pemikiran saat ini mengharuskan pemimpin muda tidak hanya berangkat dari simbol, tapi juga punya strategi, aksi, dan kolaborasi nyata untuk mengatasi tantangan modern.












