Malang, Binarpagi.id – Di tengah perkembangan Kota Malang yang semakin modern, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah transportasi di Jawa Timur. Stasiun ini terletak di kawasan Kotalama, Kedungkandang, dan merupakan salah satu stasiun paling tua di Jawa Timur.
Stasiun Kota Lama Malang dibangun oleh perusahaan kereta api milik Belanda, Staatsspoorwegen (SS), dan mulai beroperasi sekitar tahun 1879. Saat itu, stasiun ini memiliki peran penting untuk mengangkut hasil bumi dari Malang yang kemudian dikirim ke pelabuhan di Surabaya. Hasil bumi seperti kopi, tebu, kayu, dan produk pertanian lainnya dikirim lewat jalur kereta api dari sini ke berbagai daerah.
Stasiun Kota Lama memiliki gaya arsitektur bergaya Eropa klasik yang sangat mencolok. Bangunannya didominasi oleh jendela-jendela besar, pintu melengkung, dan ventilasi tinggi. Bahan bangunan asli seperti kayu jati dan besi tempa masih dipertahankan hingga sekarang, yang membuat stasiun ini terkesan otentik. Interior stasiun yang juga masih mempertahankan lantai bermotif klasik semakin menegaskan kesan historisnya.
Baca Juga: 3 Warisan Kolonial di Malang, Bangunan Bersejarah yang Masih Berdiri Kokoh
Walaupun saat ini aktivitasnya tidak sepadat Stasiun Malang Kota Baru, Stasiun Kota Lama masih aktif melayani beberapa rute kereta api lokal seperti KA Penataran dan KA Dhoho. Lokasinya yang strategis menjadikan stasiun ini tetap penting bagi sebagian warga Malang.
Potensi wisata sejarah Stasiun Kota Lama Malang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bangunannya layak menjadi bagian dari wisata heritage Kota Malang. Penambahan fasilitas seperti papan informasi sejarah dan penunjuk arah bisa menjadi langkah awal untuk menjadikan Stasiun Kota Lama Malang sebagai salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik.
Kini, keberadaan bangunan seperti Stasiun Kota Lama Malang sangat penting untuk dijaga. Ia menjadi pengingat bahwa setiap kota memiliki cerita, dan setiap cerita layak untuk dikenang serta dibagikan. Dengan melestarikan stasiun ini, kita tidak hanya menjaga fisiknya, tetapi juga merawat sejarah Kota Malang itu sendiri.
Penulis: Kandiasalma Yunita Salsabila
Editor: Kandiasalma Yunita Salsabila












