Malang, Binarpagi.id – Kota Malang memiliki banyak bangunan bersejarah dengan arsitektur khas Eropa peninggalan kolonial Belanda. Perpaduan arsitektur khas Eropa dan nuansa lokal ini membuat bangunan-bangunan di Kota Malang ini sangat menarik.
Bangunan-bangunan ini menjadi daya tarik para wisatawan mancanegara maupun pecinta sejarah. Berikut ini beberapa bangunan bersejarah di Kota Malang yang wajib dikunjungi.
1. Balai Kota Malang
Bangunan yang sekarang digunakan sebagai pusat pemerintahan di Kota Malang ini dulunya dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada tahun 1929. Bangunan ini dirancang oleh arsitek asal Belanda untuk digunakan sebagai pusat pemerintahan kolonial Belanda di Kota Malang.
Baca Juga: Malang Kota Wisata dan Pendidikan: Apa yang Membuatnya Menarik bagi Mahasiswa?
Namun, setelah Indonesia merdeka, bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diubah menjadi pusat administrasi pemerintahan Kota Malang. Setelah sempat beberapa kali berubah fungsi, bangunan ini resmi dijadikan pusat pemerintahan di Kota Malang.
2. Gereja Katedral Ijen
Gereja ini dibangun pada tahun 1934 dengan nama Gereja Santa Theresia dan dirancang oleh arsitek asal Belanda. Nama Santa Theresia diambil dari nama biarawati asal Perancis yang sangat dihormati umat Katolik.
Sebelumnya di Kota Malang hanya ada satu gereja Katolik di daerah Kayutangan yang sudah berdiri sejak tahun 1905 lalu dibangunlah Gereja Katedral Ijen ini. Bangunan gereja ini menggunakan gaya arsitektur Neo-Gothik khas Belanda.
3. Wisma Tumapel
Wisma Tumapel ini dibangun pada tahun 1928 dan diberi nama Splendid Inn. Bangunan ini menerapkan konsep New Indische (hotel yang menawarkan pemandangan indah sebagai daya tarik utamanya) yang membuat hotel ini populer karena konsep ini masih jarang dipakai pada tahun itu.
Setidaknya ada 96 ruangan di dalam Wisma Tumapel ini. Namun, saat ini Wisma Tumapel menjadi terbengkalai dan memiliki banyak misteri.
Inilah ketiga bangunan peninggalan kolonial yang bisa kalian jumpai jika mengunjungi Kota Malang.
Penulis: Kandiasalma Yunita Salsabila (Magang)
Editor: Faisol Arifin












