banner 970x250
News  

Buya Ahmad Syafii Maarif dan Warisan Nilai Sosial Keagaman bagi Generasi Muda

A. Dahri
Buya Syafii Maarif. Foto/dok
Buya Syafii Maarif. Foto/dok
62 / 100 Skor SEO

Binarpagi.id – Buya Ahmad Syafii Maarif. Kita tahu ia adalah cendrkiawan muslim yang memiliki pemikiran konsisten dan tegas dalam membela diskriminasi dan intoleransi. Asas kemanusiaan menjadi kunci dasar pergerakan dan gagasan yang selalu tertular pada generasi muda.

Buya kerap menyinggung sila yatim piatu. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Disadari atau tidak keadilan memang kerap menyisakan tanda tanya besar. Bukan hanya masyarakat tertindas dalam kategori sosial. Tapi juga buruh sampai pemeluk agama.

Utamanya dalam konteks sosial keagamaan. Pendidikan juga menjadi perhatian. Kepekaan ini tentu bukan dibangun atas nama ketenaran dan kemegahan posisi sosial atau akademis di lembaga pendidikan. Tetapi atas dasar kemanusiaan.

Baca Juga: Ratusan Karyawan PT BMI Gelar Aksi di PN Kepanjen Perihal Sengketa Tanah

Bagaimana sikap ia saat membela yang tertindas kerap berbeda argumen dengan para akademisi dan cendekiawan lainnya. Diperkuat dengan analisis pengetahuan yang diwujudkan pada nilai. Diwujudkan pada aksi. Dan bukan sebatas teori atau opini belaka.

Jika melihat lebih dalam atas sikap-sikapnya maka kita dapat memetik hikmah bahwa membela yang lemah adalah bentuk dari ibadah. Termasuk bersikap adil kepada siapapun. Walaupun propirsional. Tetapi adil perlu dipahami sebagai sikap mengetengahkan kemaslahatan. Bukan kepentingan-kepentingan segelintir orang atau kelompok.

Di samping sikap atas penindasan. Membangun dan menyebarluaskan nilai Inklusifitas juga menjadi cita-cita luhur. Pasalnya dalam pandangan dan pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif cenderung mengedepankan inklusifitas dalam keberagaman ini.

Baca Juga: Kemendikbudristek Tegaskan UKT Naik hanya untuk Mahasiswa Baru

Indonesia adalah negara dengan keberagaman yang unik. Sehingga perlu ada sikap toleransi atas ragamnya karakter suku bangsa dan bahasa. Oleh karenanya ketika ada penindasan atas kelompok tertentu apalagi yang mengatasnamakan agama maka asas kemanusiaan harus menjadi semangat inklusifitas.

Buya mencontohkan dengan berbagai sikap dan gagasan-gagasan yang ia curahkan dalam ceramah atau tulisan-tulisan. Karya itulah yang seharusnya terus dibaca agar nilai dan semangat inklusifitas terus tumbuh dan berkembang.

Membaca Buya, Inkkusifitas sebagai Keniscayaan

Binneka tunggal ika adalah falsafah republik ini. Dan harus dikenal sebarkan. Bukan hanya itu tapi juga harus ditanam pahamkan. Karena bagaimanapun prinsip utamanya adalah menghargai perbedaan menuju pada perdamaian yang satu.

Dalam mewujudkan falsafah itu yang dibutuhkan bukan semata pengetahuan atau teori saja. Tetapi juga kedalaman batin dan selesai atas dirinya sendiri. Buya Ahmad Syafii mencontohkan itu melalui kesederhanaan. Tapi sikapnya egaliter.

Prinsip dari ajaran Islam adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Menjalankan dan memerintahkan kebaikan lalu meninggalkan kemungkaran. Itulah yang perlu dikaji pahami bukan dengan pemaknaan tekstual semata.

Ma’ruf berarti arafa yang dipahami atau yang dikaji. Dalam konteks jawa dielmoni. Dikaji terus menerus sehingga menjadi kebaikan. Sehingga bersikap adil dan membela yang tertindas adalah prinsip kebaikan yang dikaji terus menerus sehingga menjadi kebaikan yang benar-benar kebaikan. Bukan sebatas pemahaman tekstual.

Di mana selama ini pemahaman atas kalimat itu hanya dipahami secara tekstual saja. Dari membaca Buya kita dapat melihat bagaimana prinsip islam itu benar-benar hadir menjadi nilai yang membumi. Bukan ngawang dalam anggapan teoritis.

Artinya apa yang dilakukan oleh Buya selama ini sejalan dan senafas dengan cita-cita besar Indonesia dan Islam. Kesejahteraan dan keamanan sosial. Perdamaian dan keadilan sosial.

Membaca Buya berarti membaca indonesia. Membaca nilai dan membaca etika. Membaca kelemahlembutan dan membaca ketegasan. Yang pada dasarnya itu menjadi cikal bakal dari semangat untuk saling menghargai dan menghormati berbagai perbedaan. Bahkan kultur yang beragam.

Gagasan Buya tentang kemanusiaan adalah wujud dari nilai agama yang diwujudkan dalam sikap keseharian. Kepentingannya adalah menjunjung tinggi kemanusiaan. Menghormati dan menghargai perbedaan. Sejalan dengan falsafah Negara kita. Indonesia.[]

 

Penulis: A Dahri

Editor: Aji Habibie

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *